Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Welcome to weblog LSM LISMIT

Da'wah Kampus dan Durian

Senin, 03 Februari 2014

Ilustrasi.
Dakwah kampus itu semacam durian yang matang. Penuh dengan duri tajam, di tambah jarak yang sangat rapat. Mencium aromanya dari luar lebih muda ketimbang menyentuhnya dengan tangan. Belum lagi setiap pohon durian, yang tumbuhnya berbeda-beda. Ada yang di pinggir sungai dengan tanah yang subur, ada lagi yang di tanah gersang dengan minim air, selanjutnya ada di tepi jurang yang curam. Belum lagi gangguan dari si monyet yang serakah. Kondisi yang seperti itu membuat kuantitas durian menjadi berbeda-beda pada akhirnya. Tapi walaupun berbeda-beda, pada akhirnya pun durian akan matang. Matangnya buah durian pun, akan di tandai nikmatnya, segarnya, dan manisnya bila waktunya tepat. Atau pun sebaliknya jika waktu yang tepat di tandai dengan buah yang mentah, dan berakhir tak enak di makan. Analogi di atas mungkin tepat dengan dakwah kampus sekarang ini dalam perspektif. “Kenapa dan kenapa”, menjadi kata yang penting bagi seseorang yang ingin mengenal dakwah kampus.
 
Kampus merupakan tempat proses belajar mengajar baik formal maupun non-formal. Di seluruh dunia kampus menjadi tempat sentral dalam menyokong pemimpin-pemimpin di negeri mereka, termasuk juga di Indonesia. Maka tak heran kampus menjadi tempat berlabuhnya pemikiran, gagasan, ideologi, dan keyakinan. Sedangkan sistem Islam, mempunyai semuanya dari ideologi, gagasan, dan lain sebagainya itu hanya sebagian kecil. Budaya westernisasi dan globalisasi menjadikan kampus menjadi medan dakwah yang curam, karena segala pemikiran dan ideologi di ajarkan di situ selain Islam. Tak heran, hakikat manusia yang sudah mengenal Islam secara kaffah. Akan tahu akan kewajiban dan tugas sebagai manusia, salah satunya sebagai pendakwah untuk hal yang kecil sampai yang besar tergantung kapasitasnya. Maka tak heran, banyak mahasiswa yang berjibaku untuk hal yang kecil dan besar dengan membawa tatanan Islam. Dari observasi, dapat di lihat bahwa kampuslah tempat latihan dan belajar yang lebih luas untuk kalangan yang di sebut dengan aktivis dan aktivis dakwah.

Ketika sudah mengetahui hal-hal apa yang harus di lakukan sebagai mahasiswa muslim, maka kita sudah belajar mengarungi samudra dakwah tanpa ujung. Sebelum mengarungi jalan yang tak berujung, harus mengenal terlebih dahulu;

1. Medan Dakwah
Medan itu secara terminologi ‘’daerah atau tempat’’. Lain medan lain juga caranya, tidak bisa menggunakan cara yang sama. Medan yang bagus, subur dan sejuk, ketika menanam lalu menjalar ke mana-mana seperti jamur, seperti itu jika kita melihat dari kaca mata ideal. Ibarat contoh, satu orang yang berbuat baik maka semua mengikuti hal yang baik itu. Jika melihat dari sirah Nabi Muhammad saw, maka selama 13 tahun di Mekkah yang di dapatkan pengikut-Nya hanya sedikit dan berbanding terbalik jika kita melihat fase dakwah di Madinah yang seperti jamur. Artinya cara yang keras bisa di hadapi dengan lembut, begitu pun cara yang lembut bisa di hadapi dengan lembutkan lagi, dan cara yang terlalu keras bisa di hadapi dengan lembut atau lebih keras lagi. Mengenal medan ini sangat penting, untuk bisa mengetahui hakikat Islam yang sudah ada di dalam jiwa kita.

Kampus yang berbeda-beda, fakultas yang berbeda-beda, prodi yang berbeda-beda mungkin membutuhkan angin segar yang harus kita cari. Terkadang apa yang baik ketika mata memandang, ingin di adopsi tanpa menimbang atmosfir di suatu daerah akan bersifat fatal. Tak jarang istilah ‘’fanatisme’’ dan ‘’Taklid buta’’, menjadi titel bagi penggerak roda dakwah di kampus yang mengadopsi tanpa pertimbangan. Dari itu, sangat penting untuk mengenal medan dakwah apalagi sebagai motor penggerak di dakwah kampus maupun fakultas. Menembus portal dalam berpikir itu suatu keharusan, apalagi untuk menemukan kreasi dan kemasan yang menarik. Menjadi keharusan dalam menjalankan roda dakwah di kampus. Sebelum melebarkan sayap untuk yang lebih besar. Harus di ketahui bahwa obyek dakwah ini, manusia bukan barang atau boneka. Mempunyai sifat yang berbeda-beda dan hati yang tersembunyi. Begitu pun dengan buah durian, jika di tanah subur maka buah yang di hasilkan akan banyak. Sebaliknya jika kering dan tandus, maka buahnya pun juga akan sedikit dan bisa juga lebih buruk lagi.

2. Kuantitas dan Kualitas
Kuantitas dan kualitas acap kali menjadi perdebatan yang tak kunjung usai di dalam menjalani roda kehidupan baik di dalam peperangan, corporation, institusi pemerintahan, dan lain sebagainya. Begitu pun juga dengan dakwah. Kampus juga akan menjadi ladang untuk berbuat kebaikan, perlu juga motor penggerak atau istilah itu “aktivis dakwah”. Aktivis dakwah ini yang bergerak di bidang pensyiaran Islam untuk senantiasa mengajak kepada kebaikan “Amar ma’ruf nah mungkar”. Title aktivis yang di pakai, bisa di artikan sebagai penggerak atau motor dalam menjalankan roda dakwah di kampus. Roda dakwah di kampus bisa di lihat dari organisasi untuk berkontribusi di kampus dan masyarakat. Dari observasi di ketahui bahwa banyak organisasi yang besar, malah minim dengan kontribusi. Maka tak jarang istilah “nebeng nama”, sering menghinggap di kalangan aktivis dakwah saat ini.

Sudut pandang yang berbeda menambah kerumitan dalam dakwah kampus. Indikator dalam mengukur kuantitas dan kualitas menjadi hal yang penting di bahas. Padahal jika melihat dari fase Rasulullah saw, maka tak jarang kita melihat. Bahwa yang sedikitlah yang memenangkan dalam peperangan dan menjadi unggul, karena jalan-Nya di ridhai Allah swt. Terlalu bohong lah jika membandingkan dua masa yang berbeda, tapi setidak-tidaknya menjadi sarana refleksi dalam mengarungi jalan panjang ini. Batas yang harus di tempuh ialah pemahaman yang menyeluruh dengan Islam “Islam kaffah”. Sehingga dalam aplikasi lapangan, bisa menjadi patokan di masyarakat terlepas dari banyak atau sedikitnya penggerak roda dakwah. Sama halnya juga dengan durian, terkadang satu pohon durian itu banyak menghasilkan durian dan Ada pula satu yang menghasilkan sedikit. Tergantung pupuk yang di berikan untuk menghasilkan buahnya. Tak jarang juga, yang sedikit yang di cari karena di bentuk oleh medan yang jauh dari jangkauan dan terbatas.

3. Manis atau pahit
Kalau menemukan durian yang manis, maka rasa kecewa akan sirna dalam wajah dan perasaan kita. Rasa yang tidak sia-sia, telah mengeluarkan uang untuk membeli durian. Tapi apabila sebaliknya, dalam durian itu pahit. Maka yang di lakukan pun ialah mengumpat baik secara terucap maupun dalam hati. Dan rasa kecewa menghinggap melekat di hati, untuk membuat hal itu semakin dalam ‘terlarut’.

Sedangkan jika kita menjalankan aktivitas dakwah baik di kampus, maupun pasca. Tak jarang juga kita menemukan hasil yang manis maupun pahit, tapi bedanya ialah bukan selamanya melainkan hanya sementara. Hakikatnya dakwah itu ialah meminta semua yang ada di kita, dari waktu, jiwa, pikiran, harta dan lainnya. Hasilnya pun bukan seperti investor, jika menanam langsung dapat menikmati dalam jangka waktu tahunan atau puluhan tahunan. Menjadi keharusan di dalam dada setiap muslim walaupun satu ayat yang di sampaikan. Tentu menjadi wacana dan gagasan yang besar untuk menegakkan kemenangan dalam setiap jiwa pribadi muslim yang tak tahu bahwa dia seorang muslim. Tugas yang amat berat bagi seorang manusia yang hanya terbalut daging, menjalankan tugas dakwah. Menjadi sorotan banyak mata yang tak suka dengan Islam, menjadi sampah bagi yang memandang jika membenci Islam dan menjadi fanatik jika phobia dengan teroris. Bukan hal yang mudah, tentu butuh tempat belajar yang nyata dan kampuslah menjadi salah satunya. Dan beginilah jalan dakwah itu.

“Kami sadari jalan ini kan penuh onak dan duri, arah menghadang dan kezhaliman yang akan kami hadapi. Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati, jasad ini, darah ini, sepenuh ridha di hati”. Lirik tekad, Izzatul Islam.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda Ke Website Kami, Semoga Bermanfaat

#

Terima Kasih Sudah Berkunjung ke Website LSM LISMIT, Semoga Bermanfaat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...